~ A Whole New World…



Hidup tak selamanya se-idealis yang kita bayangkan (Bersyukur)

Yap, hidup memang tidak selamanya idealis. Ada suatu keadaan dimana kita yang harus menyesuaikan. Bukankah kita tidak lepas dari ‘peraturan’ selama kita hidup di dunia ini? Yang jelas, apapun itu…kita harus bersyukur. Bersyukur. Harus ingat itu (mengingatkan diri sendiri😥 ).  Saya jadi ingat beberapa waktu yang lalu, saya mengobrol dengan mahasiswa lain universitas. Dia bilang pada saya, “kamu itu enak ya… udah pulang dari lab lebih awal… dapat salary banyak, tuition fee dan uang dormitory dapat diskon. Kalau saya gak ada seperti itu.” Kok bisa sih, bicara seperti itu?😦 Semua manusia itu pasti ada masalah yang disesuaikan dengan kemampuannya. Jujur saja, sebenarnya yang jadi keinginan saya itu bisa kerja full-time dan total dengan bidang saya. Bisa aktif dalam riset. Karena dari situ pasti kita banyak belajar. Tujuan saya ke sini bukan cari uang, tapi saya cari ilmu. Sebenarnya saya pasrah saja sewaktu saya melamar sekolah di tempat saya sekarang. Karena awalnya saya harus membayar tuition fee. Saya sudah hampir give up. Uang sebanyak itu…dalam kurs dollar pula. Saya juga sempat iri dengan mahasiswa lain yang untuk awal masuk sekolah di sini tanpa membayar apa-apa. Bahkan ada yang dibayari untuk tiket pesawatnya. Tapi waktu itu ayah bilang, “Ini ada uang, jadi kamu berangkat sekolah ke Korea.” Karena ayah bicara seperti itu ya sudah lah, saya pun berangkat. Tapi itu pun untuk tuition fee satu semester ini saja. Kalau next semester, ayah sudah ga bisa bayar. Masih banyak biaya yang harus ayah biayai, karena adik sendiri masih panjang jangkanya. Melalui e-mail, saya juga sudah bilang pada pak prof kalau saya ga punya uang untuk sekolah. Dan pak prof pun janji akan mencarikan saya beasiswa. Akhirnya setelah nyampai di Korea….alhamdulillah, semua pengeluaran hampir semua dikembalikan pada saya. Uang yang saya bayar untuk tuition fee kembali 90%. Living cost untuk biaya dormitory kembali 50%. Lalu saya pun dapat salary untuk project-nya pak prof dan itu lumayan besar juga. Alhamdulillah🙂 Saya benar-benar bersyukur. Tapi ya itu tadi… di lab ini sepertinya saya perintis dan satu-satunya mahasiswa yang fokus ke biologi molekuler. Jadi saya benar-benar harus belajar dari nol. Yang mana saya harus me-list bahan kimia di rak-rak, karena semua member yang saya tanya pada ga tau semua. Saya juga belajar alat sendiri melalui buku manual alat, karena semua orang…bahkan pak prof tidak bisa cara menggunakan. Kalau bukunya tersedia dalam bahasa Korea, saya cari di internet. Sayang sekali. Padahal alatnya bagus-bagus, tapi tidak dipakai. Bahan-bahan kimia yang tidak lengkap juga jadi salah satu penghambat. Mau gimana kalau bahan ga ada, ya gak bisa kerja. Terpaksa menunggu bahan pesanan datang dan itu membutuhkan waktu yang lama. Jadi sebenarnya dalam hati kecil saya…saya ingin seperti mereka yang sibuk full di lab, semua orang sibuk kerja, bahan-bahan kimia lengkap, dan setiap harinya selalu saja ada yang dikerjakan. Kalau saya sekarang…saya benar-benar harus mencari semuanya sendiri. Bahkan saya tidak ada kelas bahasa korea, jadi saya benar-benar belajar sendiri. Beda dengan mahasiswa lain yang ada kelas bahasa korea, kelas mereka pakai bahasa inggris sebagai pengantarnya, bahkan ada foreigner lain, meski itu bukan orang Indonesia. Di lab saya, hanya saya orang asingnya. Yah, saya juga memaklumi sih, univ tempat saya baru sedikit yang nerima mahasiswa asing.

Jadi…sebenarnya  saya juga sama dengan mahasiswa-mahasiswa itu. Sama-sama punya masalah. Sama-sama apa mengalami kenyataan tak sesuai kehendak kita. Kadang rasanya ingin sekali give up. Tapi gak bisa. Sudah berjalan sejauh ini, masak mau give up, hehe. Saya hanya bisa bersyukur. Bersyukur dengan apapun yang saya alami. Entah itu membuat saya senang ataupun tidak. Hanya itulah yang membuat saya selalu berpikiran positip dan tidak menyerah. Jadi please….jangan mengeluh seperti itu (meski kadang saya juga agak sumpek kalau orang Korea banyak mengeluhnya, mungkin itu budaya mereka, berlebihan dalam menghadapi masalah, hahaks). Kita semua sama. Allah mungkin sekarang memberi saya keadaan seperti ini karena Dia tau saya kurang begitu suka dengan keadaan seperti ini. Karena sekali lagi, tujuan saya ke sini adalah untuk mencari ilmu…bukan mencari uang. Allah menguji saya, seberapa mampu saya bisa mengatasi ini. Yah, Allah yang menguasai alam semesta ini. Dia lah yang memberi kami masalah, dan kepada Dia lah kami kembali. Dan saya percaya, Allah pasti memberi masalah sesuai kemampuan kami. Jadi ingat kata-kata teman saya, masalah itu tidak bisa dibandingkan. Allah sudah memberi masalah sesuai dengan kadar kemampuan kami dalam menyelesaikan masalah. Mungkin, saya iri dengan kondisi si A. Tapi giliran saya benar-benar mengalami masalah seperti si A, saya mungkin belum tentu bisa. Begitu juga sebaliknya. Wallahualam

“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Dia mendapat (pahala) dari (kebajikan) yang dikerjakannya dan dia mendapat (siksa) dari (kejahatan) yang  diperbuatnya. (Mereka berdoa). “Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau melakukan kesalahan. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau bebani kami dengan beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tidak sanggup kami memikulnya. Maafkanlah kami, ampunilah kami, dan rahmatilah kami. Engkaulah pelindung kami, maka tolonglah kami menghadapi orang-orang kafir”

(Al-Baqarah : 286)


Trackbacks & Pingbacks

Comments

  1. sabar🙂

    | Reply Posted 7 years, 6 months ago


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: