~ A Whole New World…



Ikhlas…

Saya mendengar kabar bahwa ayah teman saya meninggal karena komplikasi ginjal. Saya sempet mendengar cerita menjelang meninggalnya Beliau. Yang mengharukan adalah, setelah teman saya bilang pada ibunya untuk ikhlas dan ibunya sudah menyatakan ikhlas… sang ayah menghembuskan nafas terakhirnya. Sama seperti almarhum kakek. Sewaktu kakek koma, kami masih berharap banyak dan kami semua yakin kakek akan sembuh. Siang harinya sebelum kakek meninggal, saya sama ibu sempat ngobrol dan kami sudah menyatakan ikhlas. Kalau memang Allah menghendaki dengan kakek meninggal akan lebih baik, kami ikhlas. Karena kami benar-benar kasihan dengan keadaan kakek yang seperti itu. Dan sama sekali kami tidak menyangka bahwa malamnya kakek meninggal, padahal kami sudah berencana besoknya kakek mau di-CT Scan. Selalu saja seperti itu. Apa iya orang yang akan meninggal merasa bahwa seseorang yang akan ditinggal tersebut akan ikhlas atau tidak? Saya juga pernah baca buku Chiken Soup for Teenage, ceritanya pun mirip sekali. Ada seorang adik sakit kanker (kalo ga salah). Dia harus berjuang hidup untuk kakaknya, karena kakaknya tidak ingin dia menyerah dengan penyakitnya. Malah sang kakak sudah membuat perjanjian, dia akan berjuang menyembuhkan setengah dari penyakit adiknya. Begitu pula sang adik, juga harus berjuang setengahnya lagi. Suatu hari sang kakak bercerita hal ini pada seorang temannya dan temannya malah menyalahkan sang kakak. Katanya sang kakak itu egois sekali. Setelah dipikir-pikir lagi, sang kakak pun berpikir kata-kata temannya itu ada benarnya juga. Akhirnya malam itu sang kakak berbicara jarak jauh dengan sang adik, bahwa dia ikhlas. Apapun yang akan sang dilakukan oleh adik, sang kakak pasti akan mendukung. Tapi mereka bukannya kalah atau menyerah dengan penyakit sang adik. Karena mereka telah berjuang sampai sejauh ini. Dan lagi-lagi tanpa diduga, paginya kakak menerima telepon dari ibunya bahwa tadi malam adiknya telah meninggal. Bener-bener menyentuh. Waktu saya pada ibu, ngobrol menjelang ojisan meninggal, kami pun terinspirasi dari cerita itu. Begitu pula pengalaman-pengalaman yang lain. Lagi-lagi saya berpikir, mungkin ada benarnya apa yang dikatakan Ahmad Dhani (personel grup band Dewa) sewaktu konferensi pers masalah Ratu. Dia berprinsip pada Innalillahi wa innalillahi rozi’un. Bahwa dia akan siap kehilangan segalanya, baik materi…atau apapun yang ada di dunia ini. Karena semua itu bukan milik kita, tapi milik Allah. Dia menanamkan konsep itu pada dirinya. Jadi kalau dia kehilangan sesuatu, dia tidak akan kaget dan itu akan menjadi hal yang biasa saja. Kalau kita bertemu sesuatu, kita pun harus siap kehilangan. Iitu sudah jadi hukum alam. Mungkin terdengar arogan, tapi itu mungkin benar. Kita diajarkan untuk ikhlas, ditanamkan pada diri kita untuk ikhlas. Tapi itu sulit sekali. Apalagi ikhlas untuk sesuatu yang kita cintai. Kita hanya manusia, kita harus berjuang mati-matian untuk mencapai kata ikhlas.

Ya Allah, apa benar seperti itu yang Kau harapkan dari kita????
Wallahualam

(my last blog — yahoo360 / 02-02-2007)


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: