~ A Whole New World…



Logika matematika ~ antara halal & haram

Kemarin malam saya berdiskusi tentang logika matematika yang ada kaitannya dengan halal dan haram. Wah, ternyata matematika itu penting juga, hohoho. Kemudian saya ditunjukkan artikel tentang logika berpikir tersebut.

Jadi menurut referensi yang saya baca, dalam islam itu ada 2 kaidah yaitu Ibadah dan Muamalah yang satu sama lain saling berkebalikan hukumnya. Oke, saya akan bahas satu-satu.

Kaidah dalam ibadah :

Dalam artikel tersebut menyatakan bahwa hukum asal setiap ibadah adalah haram kecuali ada dalil yang menyuruh. Jadi kita tidak boleh beribadah karena semua ibadah haram, puasa haram, shalat haram, haji haram, pokoknya semua bentuk ibadah adalah haram kecuali ada dalil yang membolehkan. Allah menyuruh kita shalat, lalu dijelaskan pula di hadits tentang tata cara shalat, jadi kita boleh shalat. Dan Allah bilang hukumnya wajib, maka kita HARUS shalat. Begitu juga dengan puasa. Allah menyuruh kita puasa di bulan Ramadhan, maka kita wajib untuk berpuasa. Dan juga dalil yang menyatakan haji, maka kita harus melaksanakan haji tentunya dengan ketentuan-ketentuan yang telah diatur dalam Al Qur’an dan Hadits. Jadi semua yang menyangkut ibadah itu kita baru laksanakan kalau ada dalilnya. Makanya kita juga tidak boleh sembarangan dalam beribadah sebelum kita tau Allah dan Rasul-Nya menyuruh hal itu atau tidak, ada dalilnya atau tidak. Nah, bagaimana kalau kata-katanya dibalik? Misalnya, semua ibadah halal kecuali yang tidak diperbolehkan. Kalau memang seperti itu, nanti artinya jadi beda lagi. Jangan-jangan nanti malah diartikan, kalau gitu boleh sholat maghrib 5 rakaat dengan asumsi semakin banyak rakaat semakin baik. Padahal kenyataannya kita harus sholat maghrib hanya 3 raka’at. Jadi kita kembali lagi pada logika : semua ibadah adalah haram kecuali ada dalil yang membolehkan. Al Qur’an dan Hadits mengatur semua bentuk tata cara dalam beribadah. Dan selain dari pada itu semuanya adalah haram. (apa dari sini logika-nya mengena? 😉 )

Kaidah dalam Muamalah (sosial) :

Nah beda halnya dengan kaidah ibadah. Hukum asal setiap muamalah adalah halal, kecuali ada dalil yang mengharamkan. Dalam hal ini saya akan mengambil contoh tentang makanan. Jadi pada dasarnya kita boleh makan apa yan ada didalam bumi ini, kecuali ada dalil yang mengharamkan. Misalnya dalil kita tidak boleh memakan babi. Karena ada dalil yang mengharamkan kita makan babi, maka kita tidak boleh makan babi. Lalu dalil tidak boleh minum minuman yang memabukkan. Karena ada aturan tersebut, maka itu haram untuk kita minum. Logika-nya sama dengan yang di atas (kaidah dalam beribadah). Kalau kata-katanya kita balik…semua haram kita makan kecuali ada dalil yang membolehkannya…berarti kita tidak boleh makan apa-apa, hohoho. Nah, ternyata hal ini terjadi dalam kehidupan kita sehari-hari. Apa kita tidak seharusnya mengeluarkan label makanan “haram untuk muslim” daripada mengeluarkan label “halal”? Kalau gitu…suatu produk tanpa label “halal” akan menjadi haram dikonsumsi? hoho. Masa kita tinggal di negara yang mayoritas adalah muslim dibatasi makanan dengan label “halal”? Kalau di sini sih…karena muslim adalah minoritas kita wajar bertanya-tanya, “Ini halal atau enggak ya?”. Jadi seperti itu lah logika berpikirnya.

Mohon koreksi jika ada yang salah 😉

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: